Saturday, March 25, 2017

NHW #9 : BUNDA SEBAGAI AGEN PERUBAHAN



Waah, tidak terasa sudah sampai pada penghujung program Matrikulasi Institut Ibu Profesional batch #3. Dan untuk nhw kali ini pun sangat simpel, yaitu ingin menjadi agen perubahan seperti apa kita ditengah-tengah masyarakat berdasarkan passion yang kita miliki. Sebenarnya saya suka sekali dengan dunia jahit menjahit, tapi sekarang baru bisa bikin yang simpel-simpel. Padahal kalau sudah mahir sedikit mau mengajarkan ibu-ibu rumah tangga membuat kerajinan dari kain-kain sisa sehingga bisa menambah income keluarga.Sekarang yang jelas saja dulu lah, disamping menjahit saya juga memiliki minat pada bidang literasi karena dari kecil saya sudah hobi sekali dengan membaca yang tak diragukan lagi banyak sekali manfaatnya. Tetapi di masyarakat Indonesia sudah menjadi rahasia umum kalau kita memiliki tingkat minat baca yang sangaaaaaaat rendah. Bagaimana akan menjadikan anak-anak suka membaca kalau ayah atau ibu mereka sendiri tidak tertarik. 

Berdasarkan fakta tersebut saya membuat sebuah langkah kecil untuk menularkan minat baca setidaknya kepada teman-teman saya yaitu dengan merangkum isi buku yang saya baca atau mereview isi buku tersebut yang kemudian saya share di group atau facebook dan belakangan saya membuat instagram khusus untuk memposting review buku-buku tersebut. Berharap dengan itu ada yang tertarik membaca buku tersebut secara utuh. 

Berikut bagan Agent of change
(pict) 

Sebagai penutup saya mengutip kalimat dari penulis inspiratif Helvy Tiana Rosa, 
"Berjuang untuk diri sendiri itu biasa, tetapi keindahan seseorang tampak justru saat ia berjuang untuk selain dirinya". 


Salam Ibu Profesional 

Saturday, March 18, 2017

NHW #8 : MISI HIDUP DAN PRODUKTIVITAS



Materi ke #8 mengajarkan saya bagaimana pentingnya menemukan misi hidup untuk menunjang produktivitas keluarga. Melihat dari aktivitas pada kuadran BISA dan SUKA yang harusnya disuruh memilih satu saja, tapi saya memilih 2 cabang ilmu yang harus saya jalankan secara serentak dan memiliki target jangka pendek, yaitu bahasa arab dan kimia. 

Menilik dari pertanyaan "BE DO HAVE", maka berikut penjabarannya;
BAHASA ARAB 
Saya ingin menjadi penebar ilmu bahasa arab, terkhusus untuk anak-anak dan ibu-ibu rumah tangga (be). Caranya dengan memberikan privat kepada mereka (do). Seiring dengan kompetensi saya ingin membuka sebuah rumah belajar bahasa arab (have). 
Ada pun aspek dimensi waktunya; 
1. Lifetime purpose : menjadi mentor bahasa arab
2. Strategic plan: Bisa membaca arab gundul dan menulis essai dalam bahasa arab, serta mampu berkomunikasi dengan lancar baik lisan atau tulisan. 
3. New year resolution: Mampu memahami ilmu nahwu dan sorof tingkat dasar, serta mampu mentashrif dengan baik. 

KIMIA 
Saya ingin menjadi dosen bidang biokimia atau bioteknologi (be). Untuk mewujudkan itu saya harus melanjutkan studi minimal level S2 (do). Memiliki satu penelitian yang bisa memberikan banyak manfaat (have). 
Adapun aspek dimensi waktunya: 
1. Lifetime purpose : Dosen inspiratif 
2. Strategic plan : Mengantongi ijazah S2 maksimal tahun 2020 
3. New year resolution 
- Mencapai target toefl minimal 500 
- Bisa menulis essay ilmiah dalam bahasa inggris 
- Mendapatkan beasiswa di PTN dalam negeri (IPB atau UNAND) 

Sunday, March 12, 2017

NHW #7: BUNDA PRODUKTIF : rezeki itu pasti, kemuliaan harus dicari

Pekan ke 7, masuk kepada materi BundaProduktif. Mengutip dari materi, Bunda Produktif adalah bunda yang senantiasa menjalani proses untuk menemukan dirinya, menemukan “MISI PENCIPTAAN” dirinya di muka bumi ini, dengan cara menjalankan aktivitas yang membuat matanya “BERBINAR-BINAR". 

Ini niih, menjalankan aktivitas yang membuat matanya "berbinar-binar". Menjadi FTM selama 8 tahun saya menjalani peran benar-benar murni sebagai ibu dan istri. Tidak ada aktivitas lain yang cukup berarti untuk pengembangan kemampuan diri saya. Dan saya merasa saya juga tidak sempurna menjalani 2 peran tersebut. Masih biasa-biasa saja. Begitu ada rekomendasi untuk mengetahui minat dan bakat metoda ST (Strength Typology) 30 melalui www.temubakat.com yang diciptakan oleh Abah Rama saya bersemangat sekali mengikutinya. Saking semangatnya saya sampai melakukan tes ini berulang kali, bahkan 1 tes saya minta tolong kepada suami untuk melakukannya karena saya tahu suami adalah orang yang mengenal diri saya bahkan melebihi diri saya sendiri. Dari 3-4 kali tes tersebut ada beberapa potensi positif saya yang berbeda tapi ada 3 kategori yang tak tergoyahkan adalah Analyst (orang yang suka dengan angka dan data), Educator (memiliki keinginan untuk memajukan orang lain), dan Motivator (suka memberi motivasi kepada orang lain). 

Berikut hasil tes saya, 
(pict) ... 

Hasil tes tersebut gak jauh-jauh beda lah dengan yang saya rasakan selama ini. Atas semua itu saya semakin yakin, kalau misi saya adalah di dunia pendidikan. Mungkin dulu saya bercita-cita sebagai guru/dosen kimia, sekarang mungkin bisa dialihkan menjadi guru bahasa arab ( I really hope). 

Disamping ST 30, untuk mencari aktivitas yang benar-benar menjadi potensi kita dan membuat kita enjoy menjalaninya dapat dilakukan dengan membuat aktivitas kuadran 4; 
Kuadran 1: aktivitas yang saya suka dan saya bisa - mengajar 
- berkebun 
- membuat catatan harian 
- merencanakan kegiatan jangka panjang 
- membuat konsep atau materi ajar 
- beberes rumah (home decor) 
- memberi motivasi orang lain

Kuadran 2: aktivitas yang saya suka tetapi saya tidak bisa 
- menjahit 
- bersepeda 
- menulis naskah/artikel yang panjang

Kuadran 3: aktivitas yang saya tidak suka tapi saya bisa 
- memasak 
- mencuci

Kuadran 4: aktivitas yang saya tidak suka dan saya tidak bisa 
- design grafis 
- membuat kue 
- berdagang

Selama ini saya berpikir, bunda produktif itu adalah bunda yang bisa menghasilkan uang. Dan ternyata saya salah. Bunda Produktif itu tidak selalu dinilai dengan apa yang tertulis dalam angka dan rupiah, melainkan apa yang bisa dinikmati dan dirasakan sebagai sebuah kepuasan hidup, sebuah pengakuan bahwa dirinya bisa menjadi Ibu yang bermanfaat bagi banyak orang. Jadi, mulai sekarang "menjadilah produktif dengan cara yang profesional". Urusan rezeki Allah yang mengatur. 

Rejeki itu datangnya dari arah tak terduga, untuk seorang ibu yang menjalankan perannya dengan sungguh-sungguh dan selalu bertaqwa. 

Saturday, March 4, 2017

NHW #6 BELAJAR MENJADI MANAJER KELUARGA HANDAL




Menjalankan pekerjaan rutin yang tidak selesai, membuat kita merasa sibuk sehingga kadang tidak ada waktu lagi untuk proses menemukan diri. Untuk itu kita harus BERUBAH atau KALAH.

Catatan penting untuk saya, ada 3 aktivitas paling penting yang harus dikerjakan secara dinamis; ibadah, mengurus keluarga dan menimba ilmu. Dan 3 aktivitas paling tidak penting yang harus dikurangi atau kalau bisa di-cut; medsos kebablasan, nonton drama korea dan "ngalai-ngalai" (malas-malasan).

Membuat jadwal harian dan konsisten menjalankannya sangat bagus dalam mendukung peran kita sebagai manajer keluarga handal. Berhubung saya adalah seorang ibu yang bekerja pada ranah domestik, otomatis 90% kegiatan saya terpusat di rumah.

Berikut jadwal harian yang saya buat dalam menjalankan peran saya sebagai seorang manajer handal keluarga:
03.30 - 05.00 : Bangun, tahajud, tilawah, subuh dan mandi pagi
05.00 - 06.00 : Murajaah dan hafalan abang dzaki
06.00 - 07.00 : Menyetrika pakaian / mencuci pakaian
07.00 - 10.00 : Beres rumah, belanja ke pasar dan masak
10.00 - 12.00 : Aktivitas bersama gildan, Sewing, crafting dan online shop (sosmed, group ilmu) 12.00 - 14.00 : Ishoma, Belajar tahsin online
14.00 - 17.00 : aktivitas kreatif bersama Dzaki dan Gildan,Materi sore Dzaki
17.00 - 18.00 : Mandi sore, persiapan magrib dan makan malam
18.00 - 19.00 : Mengajar Dzaki iqra, membacakan sirah nabawiyah untuk Dzaki/Gildan
19.00 - 20.00 : Menemani Dzaki belajar, menemani Gildan membaca buku
20.00 - 21.00/22.00 : Me time (baca buku, belajar kelas online bahasa arab dan IIP)

Note
* 14.00 - 20.00 : NO gadget
* Jadwal ini berlaku untuk hari senin-sabtu

Sunday, February 26, 2017

NHW #5 : LEARNING HOW TO LEARN


Belajar bagaimana caranya belajar, weees dalam banget yah ini judulnya. Memasuki pekan ke-5 kelas materikulasi, membuat saya mikir-mikir apaaa ya yang mau dikerjakan. Desain pembelajaran seperti apa ya yang diinginkan oleh saya?  

Menoleh lagi kebelakang, mengingat masa-masa yang telah berlalu. Saya termasuk generasi kurikulum CBSA, dimana "kehebatan" hanya diukur dari sisi akademis yang kognitif saja. Jadilah saya hanya melihat bidang-bidang ilmu itu sangat sempit. Sejak SD yang terlintas dalam pikiran saya hanya mengikuti alur prestasi akademis, dimana saya bagus dibidang matematika dan IPA (fisika, biologi, kimia). Sementara itu, saya sangat tidak suka dengan pelajaran bahasa, PKn, sejarah, seni dan olahraga. Setelah menginjak bangku SMA satu persatu bidang ilmu yang saya sukai itu tereliminasi sehingga menyisakan satu bidang ilmu saja, kimia. Karena hanya bidang ini yang sangat menarik untuk digeluti menurut saya. Di kuliah tentu saja saya mengambil jurusan kimia, disini kesukaan saya akan kimia mulai mengerucut. Saya hanya tertarik dengan kimia organik dan biokimia. Tamat kuliah cita-cita menjadi ilmuwan bergeser menjadi pendidik sehingga saya melamar kerja menjadi dosen disebuah STIKES di tanah kelahiran, waktu itu tamatan S1 masih bisa mengajar mahasiswa D3 karena belum diberlakukan syarat dosen minimal S2. Setahun jadi dosen ada gonjang ganjing pemberlakuan syarat S2 dan saya pun hijrah ke ibukota tetap dengan niat sebagai tenaga pendidik. Akhirnya keterima sebagai guru di salah satu sekolah internasional. Disisi terdalam hati saya ingin sebenarnya melanjutkan studi, tapi sisi lain mengatakan saya harus menikah. Di usia mendekati 25 tahun saya berumahtangga. Singkat cerita, selama 8 tahun menikah saya stay di rumah. Keinginan untuk melanjutkan studi dibidang kimia seakan pupus. Kadang timbul semangat untuk mencari beasiswa untuk S2, lantas mikir lagi. Kalau udah S2 emang mau ngapain lagi? Ah sudahlah. Saya berpikir bukan untuk cita-cita sesaat lagi sekarang. Namun sebuah proyek jangka panjang untuk saya dan anak-anak saya. Terbersitlah sebuah keinginan untuk mendalami bahasa arab yang InsyaAllah akan sangat bermanfaat untuk saya dan anak-anak. 

Yap, jadi curhat deh ya. Padahal niatnya tadi cuma mau bikin prolog saja. Baiklah, dari proses saya menuntut ilmu selama ini, saya dapat membuat kira-kira desain pembelajaran seperti apa yang sesuai untuk saya. Ada 5 tahapan secara garis besar, yaitu: 
1. Memilih ilmu yang diperlukan 
Ilmu itu kan banyaaaak dan luas yaa, jadi penting untuk memilih dan memilahnya. Mana ilmu yang perlu diketahui secara garis besar saja, mana ilmu yang mesti didalami lebih jauh. 
2. Tujuan mempelajari ilmu 
Nah ini erat kaitannya dengan niat, apa tujuan kita mempelajari ilmu tersebut? Untuk apa? Targetnya gimana? 
3. Metoda 
Ini merupakan cara mendapatkan ilmu. Apakah otodidak, belajar di kelas formal, membaca dari literatur atau buku atau belajar langsung ke pakarnya. 
4. Strategi 
Bagaimana teknik dapat menyerap ilmu sangat penting. Ini berkaitan dengan cara belajar. Belajar sekadar tau saja atau belajar untuk benar-benar paham? 
5. Evaluasi 
Disetiap proses pembelajaran menurut saya memerlukan evaluasi. Bisa dilakukan oleh diri sendiri atau pihak yang bertanggungjawab untuk itu. 

Saya merasa diusia sekarang belum banyak berkontribusi apa-apa bagi peradaban. Setidaknya dengan mengetahui apa yang bisa saya pelajari dan bisa saya tularkan kepada orang lain dengan cara saya sendiri itu awal dari sebuah "partisipasi".

Oke, mari kita tutup dengan sebuah kutipan yang manteeeb.
" Good is not enough anymore. We have to be different"

Salam Ibu Profesional



Sunday, February 19, 2017

NHW #4 : MENDIDIK DENGAN KEKUATAN FITRAH

Alhamdulillah, sampai pada pekan ke-4 kelas matriks. Pada nhw kali ini saya menemukan sebuah kesimpulan. Bahwa dari nhw-nhw sebelumnya ada sebuah benang merah. Sebuah proses yang memiliki kolerasi, membutuhkan komitmen agar dapat berjalan secara kontinu. 

Mereview nhw sebelumnya, pada nhw #1 saya telah menetapkan Bahasa Arab sebagai ilmu yang akan saya tekuni dalam universitas kehidupan ini. Dan sampai sekarang pun masih tetap dengan pilihan itu. 

Pada nhw #2 dan #3, telah dibuat beberapa indikator untuk dapat memantaskan diri sebagai Ibu kebanggaan keluarga, disini saya masih belum konsisten.Terasa banyak sekali kendala, terutama kendala dalam diri saya sendiri yang kurang komitmen. Ditambah dengan kondisi keluarga kami yang kurang kondusif saat ini karena pekerjaan Abinya anak-anak yang juga menyita waktu dan tenaga saya. Bagian ini menjadi PR besar bagi keluarga kami. Sepertinya visi dan misi keluarga kami belum lagi duduk. Masih berjalan seperti air mengalir. Sungguh, ingin segera bermuara pada satu titik dimana kami bisa menetapkan ingin menjadi seperti apa kelurga kami. Hmm..sebetulnya kami sadar-sesadarnya bahwa kondisi ekonomi yang tidak stabil tidak membuat kami menunda-nunda proyek besar ini. Tapi energi dan fokus kami sudah habis tercurah disini. Menjalankan komitmen dan berlogika waras itu adalah perjuangan bagi kami. 

Terlepas dari semua kekurangan dan perjuangan saya saat ini. Saya tetap optimis, kalau saya adalah individu yang "very limited edition". Bahwa keberadaan saya satu-satunya di dunia ini. Saya juga sama seperti orang lain, bahwa kita memiliki peran spesifik yang harus kita jalankan sebagai wali Allah di muka bumi. Kalaulah tidak akan bisa menjadi jalan besar maka saya akan mengambil peran saya menjadi jalan setapak, intinya tetap sama, bermanfaat bagi orang.

Saya akan mempelajari dengan sungguh-sungguh ilmu yang sudah saya pilih, sehingga dengan ilmu tersebut saya bisa berbagi kepada orang lain terkhusus pada anak-anak saya. Saya bercita-cita 2 atau 3 tahun kedepan saya bisa membuat sebuah metoda pengajaran bahasa arab yang mudah dicerna oleh anak-anak usia 5-12 tahun. Saya berpendapat kalau bahasa arab itu harus menjadi bagian yang mesti dikuasi sebagai seorang muslim. Bukan hanya untuk kalangan santri saja. Sejauh ini saya melihat bahasa arab masih menjadi golongan "bahasa aristokrat" dengan kata lain hanya golongan tertentu saja yang mempelajari bahasa ini. Mungkin hal ini disebabkan karena kurangnya sumber ilmu atau pemahaman tentang urgensi mempelajari bahasa tersebut. 

Saya sadar, dengan usia yang menjelang 33 tahun ini kalau kata orang minang "umua manenggang", usia yang tidak muda tapi juga belum bisa dibilang tua. Hehee. Saya baru memulai KM 0 milestone perjalanan misi saya. Untuk speed kedepannya saya belum bisa mentarget ilmu-ilmu apa saja yang harus saya kuasai. Karena sampai saat ini saya masih berjibaku dengan ilmu yang sangat dasar (nahwu dan shorof tingkat awam). Meskipun begitu, tetap semangat dan konsisten. 

Lets do it. Do it.
HAMASAH!!!



Sunday, February 12, 2017

NHW #3 : MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH



Pekan ketiga kelas Matrikulasi dengan tema semakin menggigit, semakin membuat saya bertafakur. Menemukan misi spesifik kita diciptakan Allah di muka bumi, menemukan potensi unggul kita sehingga apa yang bisa kita berikan untuk peradaban ini. Menemukan jati diri lagi, mungkin begitu. Hmm, semua ini tidak terlepas dari peran yang sedang kita jalani, sebagai istri dan juga ibu. 

Sebagai istri, kenapa kita bisa berada pada tahap ini?, kenapa kita bisa menikah dengan seorang laki-laki yang sudah menjadi suami kita sekarang? Yaaah, jatuh cinta lah anda sekali lagi. Buatlah surat cinta pada pasangan anda. Utarakan semua perasaan anda sehingga membuat anda tidak salah memilih dia sebagai pasangan anda. Begitu instruksi dari fasilitator kami.

Saya dan suami menikah sudah 8 tahun. Tentu saja telah mengalami banyak suka dan duka. Berbagi bahagia, berbagi sedih, bahkan berbagi rahasia, berbagai apa saja. Ada juga pasang surut dalam berumahtangga, baik itu iman, roda ekonomi bahkan perasaan masing-masing kita . Demikian inti surat singkat yang saya berikan kepada suami. Saya beritakan diawal kalimat bahwa saya menyukainya dengan alasan yang sederhana. Dan saya tutup dengan mengatakan, "Terima kasih sudah memilih La. Uhibbuka Fillah". Dan heeey, apa yang terjadi setelah beliau membaca surat ini? Dia tersenyum dan langsung memeluk saya. Sementara yang dipeluk tak kuasa menahan tangis. Ada rasa plong dan ringan. Saya percaya sekali lagi, bahwa Allah mentakdirkan seseorang sesuai dengan kebutuhan kita, memilihkan yang terbaik untuk dunia kita, untuk akhirat kita. 



Terlahir menjadi seorang wanita, bisa menjadi istri dan ibu itu sungguh anugerah yang luar biasa. Alhamdulillah. Meski terkadang godaan untuk tidak bersyukur atas segala nikmat itu selalu ada. Ada titik dimana saya akan mengingat lagi betapa besar karunia Allah kepada saya. Melihat mereka, yaa. Mereka, dua putra saya. Duo mujahid saya yang tampan dan solih ( Insya Allah) , aamiin. Si sulung Dzaki, sudah 7 tahun. Cerdas seperti namanya. Sangat antusias terhadap dunia menggambar karakter dan menulis cerita. Bercita-cita bisa membuat komik dan film animasi. Suka bereksplorasi terhadap hal-hal disekitar atau mencoba kegiatan yang dibacanya lewat buku. Memiliki perasaan yang lembut. Dia juga bercita-cita mengahafal banyak ayat Al.quran, semoga kelak men jadi hafidz ya nak. Sementara si bungsu Gildan. Memiliki watak yang teguh, keras dengan apa yang diyakininya. Sekarang baru 3 tahun, tapi sudah terlihat jiwa pemberaninya. Suka dengan kegiatan rancang bangun seperti menyusun lego-lego menjadi sebuah kota. Menjadi ibu dua jagoan tentu saja membutuhkan energi yang luar biasa. Karena mereka yang kerap heboh dan aktif kesana kemari. Saling bertahan dengan pendirian masing-masing dengan ending akan menangis salah satunya. Menjaga kewarasan agar tetap berfikir dan bertindak yang layak adalah tantangan saya. Ya Rabb, jaga kewarasan saya. Mampukan saya mendidik mereka menjadi generasi akhir zaman yang solih dan bermanfaat. 

Melihat kedalam diri saya, kenapa saya terlahir dalam keadaan seperti sekarang ini? Saya yakin, saya adalah seorang yang kuat dan teguh dalam pendirian. Mampu bertahan dalam keadaan sulit sekalipun. Sangat mampu menyembunyikan suasana hati kepada orang lain, sehingga saya tetap terlihat akan baik-baik saja. Mudah berempati dan perhatian. Sangat menolak kedzaliman atau kerusakan disekitar, sehingga saya tidak segan-segan untuk memberi teguran kepada mereka yang melanggar norma sesuai kemampuan saya. 

In sya Allah, saya bangga menjadi diri saya dengan segala kelebihan dan kekurangan saya. Menjadi lebih berbahagia lagi, menjadi bermanfaat lebih banyak lagi. 

Fighting!!!

Friday, February 3, 2017

NHW #2: MENJADI IBU PROFESIONAL KEBANGGAAN KELUARGA

Materi kedua Matrikulasi ini lebih menampar lagi, "Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga". Seperti yang saya kutip dari materi, apa itu Ibu Profesional? 
Ibu profesioal adalah seorang perempuan yang 
a.Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya 
b.Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh-sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas sangat baik. 

Sementara itu ada beberapa indikator keberhasilan yang mesti terpenuhi sehingga kita bisa menjadi Ibu kebanggaan keluarga. Adapun diantaranya adalah sebagai individu, sebagai istri dan sebagai ibu. 

Berikut indikator yang saya buat untuk diri sendiri: 
a. Sebagai individu 
* Mendisiplinkan solat-solat sunat yang sangat dianjurkan; 
- solat sunat rawatib : setiap waktu 
- solat dhuha : setiap hari 
- solat tahajud : minimal 2 kali sepekan 
* Menjalankan puasa sunah senin-kamis minimal 1 hari sepekan 
* Sedekah setiap hari 
* Tilawah Qur'an minimal 1/2 juz setiap hari 
* Menghafal quran 1 ayat 1 hari 
* Memperbanyak istighfar dan dzikir 
* Membaca hadits bukhori minimal 1 hadits dalam sepekan 
* Menambah wawasan tentang ilmu "Akhir Zaman" yaitu dengan membaca buku atau artikel dari situs terpercaya atau mendengar ceramah via online. 
* Membuat rangkuman dari artikel atau status yang beredar di medsos dari pakar parenting 
* Memperbaiki managemen waktu online dengan cara men-off kan paket data di jam-jam tertentu. 



b. Sebagai istri 
* Bersungguh-sungguh memenuhi hak suami 
* Melembutkan / merendahkan suara terutama dalam beragumentasi dengan suami 
* Mengurangi omelan terhadap perkara yang tidak terlalu krusial 

c. Sebagai ibu 
* Laa taghdob -- "Jangan Marah" 
Demikian yang dijawab bujang saya ketika ditanya, "Apa yang abang tidak suka dari ummi?". Cuma itu, yang lain gak ada. Ummi baik. Hiks. Speechless plus melow deh saya. Iniiiiiii poin pentingnya. Menahan amarah, meredam emosi dan bersabar terhadap perilaku anak. 
* Menjadwal ulang kegiatan harian anak-anak 
* Membuat target bulanan yang harus dicapai masing-masing anak.

Fhiiiuwwwh, sebenarnya indikator-indikator tersebut sudah sejak dulu ada. Hanya saja tidak terlaksana dengan baik. Dan sepertinya saya tersadar bahwa ilmu yang paling saya butuhkan itu adalah "ilmu komitmen dan kesungguhan". Berharap setelah ini bisa lebih baik lagi dalam memperbaiki diri.

Salam Ibu Profesional 

Friday, January 27, 2017

NHW #1: ADAB MENUNTUT ILMU



Materi Matrikulasi minggu pertama didahului dengan Prolog: ADAB MENUNTUT ILMU. Tentang hal ini saya mengutip dari situs As Salam Madani sebagai berikut: 
"MENUNTUT ILMU, 
PELAJARI ADAB DULU. 
Ilmu dan adab tidaklah dapat dipisahkan, seorang penuntut ilmu harus beradab ketika menerima ilmu dari gurunya, beradab terhadap gurunya, beradab dengan teman-temannya, bahkan beradab terhadap buku yang dipelajari." 

Jadi, sebelum ilmu harus ada adab terlebih dahulu. Catat! 
Hal ini juga sejalan dengan materi yang disampaikan dalam kelas Matrikulasi tentang Adab Menuntut Ilmu. Setelah pemberian materi tersebut, peserta matrikulasi diberikan tugas berupa Nice Homework (NHW), ini bertujuan untuk menguatkan ilmu atau materi yang telah didapatkan sebelumnya. 

Adapun NHW pekan ini adalah: 
1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini. 
Banyak sekali ilmu yang ingin saya pelajari di kehidupan ini. Secara garis besar ada 5 kategori yaitu; agama, parenting, bisnis/marketing dan bahasa. Ilmu agama jelas mutlak untuk ditekuni, parenting pun demikian. Sejauh ini, kedua ilmu tersebut masih bisa diperoleh dengan cara yang mudah baik online maupun offline. Sehingga ketika masih ada bab-bab yang kurang dipahami bisa langsung bertanya ke pakarnya.Tapi praktiknya itu kadang yang luar biasa susah. Mengenai ilmu bisnis atau marketing sepertinya ini akan menjadi ilmu "tingkat lanjut" yang harus saya pelajari. Nah, satu ilmu yang akan sangat saya tekuni (in sya allah) adalah ilmu bahasa. Sebenarnya ada 4 bahasa yang ingin saya kuasai. Namun untuk langkah awal saya memilih untuk menguasai bahasa Arab terlebih dahulu. 

2.Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut. 
Bahasa adalah kuncinya ilmu menurut saya. Semakin baik berbahasa, semakin bagus dalam berkomunikasi, semakin baik pula dalam berpikir, semakin mudah untuk mempelajari ilmu lain. Mungkin seperti itu. Dan kenapa saya memilih bahasa Arab? Karena bahasa Arab adalah bahasanya Al.quran. Dengan demikian, setidaknya kalau sudah menguasai bahasa ini saya juga akan lebih mudah menghafal dan memahami Al.quran serta mengamalkannya.Untuk seterusnya saya juga bisa mengajarkan bahasa ini kepada anak-anak saya kelak.Bahkan sebuah cita-cita, agar suatu saat nanti saya juga bisa menyebarkan ilmu ini kepada orang lain.Saya berpegang pada hadits, "sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya". Mudah-mudahan dengan ilmu tersebut bermanfaat bagi kehidupan saya di dunia dan akhirat. 

3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut? 
Untuk saat ini saya sudah mengikuti kursus bahasa Arab kelas online via whatsapp. Baru mulai dari level awam.Kedepannya, jika ada kesempatan dan kemampuan semoga Allah perkenankan saya mengikuti kelas offline. 

4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu,perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut. 
Saya berusaha untuk bersegera dalam membaca materi yang sudah diberikan, memahaminya dengan cara menyicil, karena sebelumnya saya suka mengakhirkannya dan "sks" alias "sistem kebut semalam".Heuheuu 

Demikian NHW#1, tetap semangat menjalani proses belajar yang terus menerus hingga akhir hayat.

Menuntut ilmu adalah salah satu cara meningkatkan kemuliaan hidup kita, maka carilah dengan cara-cara yang mulia.


Salam Ibu Profesional

Wednesday, January 25, 2017

MATRIKULASI INSTITUT IBU PROFESIONAL



Kalau ibarat buku, blog ini debunya udah tebeeel banget. Teramat sangat jarang dibuka, karena ternyata membaca itu jauh lebih menyenangkan dari menulis. Hihii. Ini baru ingat (lagi) kalau punya blog, gegara mau ngumpulin tugas Nice Homework (NHW) program Matrikulasi batch #3 Institut Ibu Profesional.

Eits, tunggu-tunggu. Koq ada tugas segala. Emang si ummi kuliah lagi tah? Iya nih, kuliah di "Universitas Kehidupan". Hehe. Sebenarnya Institut Ibu Profesional adalah sebuah komunitas yang diperuntukkan untuk para ibu atau calon ibu biar lebih bahagia menjalani peranannya. Nah, sang founder Ibu Septi peni Wulandani membuat berbagai tahapan "belajar" untuk para member. Kalau dijabarkan disini apa itu Institut Ibu Profesional bakalan panjang. Untuk mengetahui lebih banyak silahkan melipir kesini dulu yaaa Institut Ibu Profesional.

Balik lagi ke matrikulasi. Jadi sejak matrikulasi batch #2 saya sudah ingin ikut. Tapi masih ragu-ragu apa nanti bisa komitmen. Hingga pada deadline hari pendaftaran saya masih juga belum bisa mengambil keputusan. Ya sudah. Ikut nanti saja kalau buka batch selanjutnya. Ketika di buka batch #3 koq ya masih ragu bin malas. Tapi di kelas foundation banyak seliweran testimoni tentang program ini. Saya baca-baca, semuanya memberikan efek positif. Satu yang paling menarik dari sekian banyak testimoni adalah yang berasal dari putri sulung bu Septi, mba Enes. Seperti yang ditulis di blognya dia mengatakan kalau program ini hebat dan terstruktur. Dia bahkan sampai memuji pemikiran sang ibu yang genius.

Baiklah, daripada penasaran dengan kehebatan program ini. Saya memutuskan untuk ikut. Apa yang didapat setelah mengikuti program ini? Apakah setelah ini hidup saya akan lebih mudah? Saya kutip jawaban dari pak Dodik (suami bu Septi), "Tidak. Namun setidaknya (jika anda mau) anda bisa membuatnya lebih menarik."

And, here I am. Start to be a "Ibu Profesional".
Keep fighting hingga 9 pekan ke depan (23 januari - 21 maret 2017). Bismillah..

Monday, March 7, 2016

Ibu, anak dan buah kurma

Diriwayatkan oleh imam Bukhori, ada sebuah kisah, seorang ibu datang membawa dua orang anak bertamu ke rumah Aisyah RA tapi ketika itu bunda Aisyah tidak memiliki apa-apa untuk dihidangkan kecuali 3 butir kurma saja. Lalu kurma tersebut dibagikan masing-masing satu butir pada ibu dan anak-anaknya. Namun saking asyiknya ngobrol, anak-anak si ibu sudah menghabiskan kurma mereka. Lalu anak-anak ini meminta kurma ibunya, padahal ibu itu juga ingin memakannya. Tapi si ibu malah memotong kurma menjadi 2 bagian dan memberikan pada anak-anaknya. Aisyah kagum luar biasa pada perilaku si ibu yang lebih mendahulukan anak-anaknya. Ketika nabi saw datang, Aisyah menceritakan hal tersebut. Lalu nabi saw berkata, "masalah membagi dua kurma untuk anak cuma berkorban sedikit, tapi perilaku si ibu pada anak-anaknya tersebut akan membawanya masuk ke dalam surga".(*)

Masya Allah, coba bayangkan. Hanya memotong kurma saja bisa mengantarkan ibu ke surga, apalagi kalau memasak yaa? Intinya mah, perilaku-perilaku baik ibu kepada anak dapat mengantarkan ibu masuk surga. Bahkan pada hal-hal yang biasa kita anggap sepele. Sungguh catatan berharga untuk emak-emak rempong yang sering dibuat kewalahan oleh sang anak.
SEMANGAT ummiiii, perilaku baikmu berbuah surga!! In sya Allah.

*ditulis berdasarkan ceramah Ust. Khalid Basalamah "17 pilar mempertahankan rumah tangga bag.1"


Bogor, 07032016

♡n.fk

Dzaki, teman dan rambut

Teman dzaki (sebut saja si kembar Da & Di), tetangga di samping rumah selesai privat mengaji. Ternyata selain si Da & Di ada juga 2 orang anak perempuan. Mereka berempat berlari-larian di halaman depan rumah. Sementara Dzaki dan seorang teman (Ev) sedang asik main lego di teras rumah. Tiba-tiba Da datang ngos-ngosan ke arah Dzaki.
Dzaki: "kenapa kamu?"
Da: "capek lari-larian"
Dzaki: "itu anak perempuan kenapa buka jilbab?"
Da: "dia gerah mungkin"
Dzaki: "kan gak boleh buka jilbab"
Da: "emang kenapa?"
Dzaki: "Kan rambut aurat, ga boleh dilihat"
Da: "kan lagi main"
Dzaki: "ya kamu jangan lihat, ga boleh. boleh buka jilbab kalau di rumah aja"
Biasanya kalau tidak yakin dengan apa yg dikatakannya, Dzaki akan selalu bilang "ya kan mii?".
Tapi kali ini tidak.
Ummi: (dalam hati) "Alhamdulillah poinnya dapet"

Bogor, 26022016
-nfk-

KHATAM QUR'AN




Khatam qur'an atau khatam kaji merupakan salah satu momen yang akan selalu dikenang oleh anak-anak minang. Dalam acara ini peserta akan merasa jadi pangeran atau putri raja sehari. Saya ingat, waktu itu sekitar tahun 1994, saat masih duduk di bangku kelas 4 SD. Saya mengikuti acara khatam kaji ini. Pagi-pagi sekali anak-anak yang ikut khatam kaji akan berdandan memakai pakaian muslim yang bagus. Anak laki-laki berdandan ala gaya timur tengah lengkap dengan gamis dan sorbannya. Sedangkan anak perempuan memakai gamis yang kalau menurut saya lebih seperti pakaian pengantin, hehe. Kehebohan itu berlanjut sampai ke mesjid. Anak-anak akan bersiap mengikuti pawai, berupa arak-arakan keliling kampung. Tak lupa pula nanti akan diiringi oleh marching band dan sanak famili. Ada yang menarik, dalam iringan ini keluarga dari pihak ayah (bako) akan membawa nampan berisi nasi kunyik (mirip tumpeng) dan makanan berbagai jenis khas daerah minang, yang nanti akan "dijujuang" diatas kepala. Begitu arakan selesai, anak-anak dan keluarga serta orang-orang kampung akan kembali lagi ke mesjid. Biasanya pawai selesai masuk waktu dzuhur. Setelah ibadah solat, acara dilanjutkan dengan makan bajamba (makan bersama dalam satu tempat, biasanya talam). Lauk disini akan spesial sekali. Karena dimasak bersama-sama oleh tetua kampung. Biasanya acara khatam kaji ini akan menyembelih sapi atau kambing yang dibeli secara patungan oleh orang tua peserta khatam kaji. Sapi atau kambing tersebut akan dibuat gulai khas minang. Kemudian dilanjutkan dengan acara inti yaitu pembacaan hafalan quran, bisa berupa surat-surat pendek atau ayat-ayat pilihan lainnya. Setiap peserta akan dilakukan penilaian oleh guru ngaji (juri), dari tajwid, irama sampai kepada adabnya. Acara tidak berhenti sampai disitu. Malam harinya, ba'da solat isya diadakan acara tambahan atau hiburan berupa "salawat dulang". Ini berisi salawat dan petatah-petitih berupa nasehat yang disampaikan dengan irama-irama dan diiringi oleh "musik" dari suara taburan "dulang" (nampan dari aluminium). 

Oh iya, untuk mencapai pada tahap Khatam Quran ini ada prosesnya loh. Zaman saya masih kecil, kalau tidak bisa dibilang semua tapi sebagian besar anak-anak tingkat SD dan SMP akan pergi mengaji ke mesjid atau surau (musholla). Anak-anak akan dikelompokkan berdasarkan usia dan kemampuannya. Rata-rata anak SD yang baru bisa baca iqro' belajar di sore hari ba'da ashar. Sementara anak-anak yang sudah bisa baca Al.quran akan belajar malam hari ba'da magrib. Disini pun akan dibagi lagi kelompoknya, ada yang baru bisa baca, ada yang tajwidnya sudah bagus dan ada juga level mahir yang sudah bisa mengaji dengan irama-irama indah. Disana kita tidak hanya diajarkan baca Al.quran dengan benar tapi juga pelajaran tambahan lain, seperti fiqh, aqidah akhlaq, imlak, sejarah islam, khad dan lain-lain. Jadi mirip-mirip TPA sekarang lah. Namun, ada sesuatu yang berbeda dan menjadi ciri khas belajar mengaji kami dulu, yaitu kegiatan didikan subuh. Kegiatan yang biasanya dilakukan seminggu sekali ini, pada hari minggu subuh. Sebelum adzan subuh yang suasananya masih gelap dan dilanda rasa kantuk anak-anak akan pergi ke mesjid, kadang bersama orang tua. Tapi lebih suka pergi beramai-ramai bersama teman-teman. Dari didikan subuh anak-anak akan dididik berani dan mandiri. Kami diajarkan supaya bisa tampil didepan umum tanpa rasa takut. Baik itu sebagai MC, menjadi pembaca al.quran, saritilawah, penceramah dan lainnya. Balik ke soal khatam kaji, untuk bisa ikut kegiatan ini, anak-anak harus lulus syarat yaitu, sudah bisa mengaji dengan lancar dan benar serta sudah menamatkan membaca Al.quran 30 juz. Kalau itu sudah dipenuhi, kami akan dibimbing oleh guru untuk mendapatkan ilmu bagaimana cara mengaji yang indah didengar. Rasanya zaman itu belum familiar gaya mengaji ala Al.Ghomidi, Al. Misyari atau ulama lainnya. Jadi kalau menurut saya irama yang diajarkan waktu itu agak terasa berat sebab mungkin juga karena saya yang tidak pandai berdendang ya. ^^


Apapun itu, guru mengaji saya/kami dulu pastilah sangat berjasa sekali. Semoga pahala terus mengalir pada mereka. Aamiin

Bogor, 23022016
-nfk-

BAKAT ANAK


Sebuah artikel di Rumah Inspirasi menuliskan:
"Setiap anak adalah unik, demikian pula bakat dan potensi yang dimilikinya. Keunikan setiap anak ini harus disadari sepenuhnya oleh orangtua, sehingga orangtua tak jatuh pada tindakan membanding-bandingkan anaknya dengan anak lain." Hal yang sama juga pernah dituturkan bu Septi Peni (founder Institute Ibu Profesional), "jangan membandingkananak bahkan dengan saudara kandungnya sendiri."

Dzaki, sulung kami masih 6 tahun. Tahapan dimana anak masih cenderung bermain dan bereksplorasi. Tugas orang tua cukup memfasilitasi saja kegiatan positif yang dilakukan anak. Karena kita tidak tahu, mana dari kegiatan tersebut yang menjadi potensi terbesar dan bakat terpendamnya.

Tapi ada satu aktivitas yang membuat Dzaki selalu merasa enjoy dan betah berlama-lama mengerjakannya. Yah, menggambar. Dan kebiasaan dari kecil juga, Dzaki senang menceritakan kembali apa yang sudah digambarnya tersebut.

Dan semalam, ketika melihat Dzaki asyik sekali dengan kegiatan menggambarnya, Ummi nyeletuk ke Abi, "kalau tinggal di Bandung, mau deh masukin Dzaki ke Rumah Pensilnya kak Eka Wardhana untuk ikut kursus membuat komik."

Dzaki menimpali,"Buat komik dijual ya Mi, nih komik Aki", sambil menyodorkan selembar kertas bergambar dengan beberapa tulisan yang hanya Dzaki dan Allah yang tahu maksudnya. Hehee.





Hingga kini, kami belum tahu apakah memang dibidang ini bakatnya. Kami baru sampai pada tahap menfasilitasi Dzaki menggambar. Kedepannya berharap segera menemukan komunitas yang cocok untuk hobinya ini. Sehingga, karya Dzaki dapat dioptimalkan lagi.

Note:
Keterangan gambar.
Kelinci melihat semut-semut berkumpul, lalu bertanya, "itu sisa roti bukan?"

*eeaaaaa grin emoticon

Tuesday, August 4, 2015

Papa terhebat seluruh dunia



Ayah,
mungkin lenganmu tak lagi sekekar dulu
pundakmu tak lagi setegap dulu
namun Ayah,
kokoh semangatmu masih seperti dulu


Ayah,
barangkali kini aku tak lagi gadis kecil
yang selalu bermanja dalam rengkuhmu
hanya saja ayah,
maafkan bila ku masih berlindung
ditegar hari tuamu


Ayah,
meski tak terucapkan
aku tahu betapa kau sayangiku
walau tak terungkapkan
aku sadar betapa kau pedulikanku


Sungguh Ayah,
engkau adalah ayah terbaik
yang aku miliki
karenanya,
aku juga ingin
menjadi yang terbaik bagimu
aku ingin
menjadi putrimu selamanya
di dunia
hingga akhirat nanti


Dan Ayah,
untuk segalanya
hanya untaian doa yang terucap
dari lubuk hati
agar kau kelak tersenyum bahagia
melangkah ke surga
berdampingan dengan Rasulullah
bagaikan telunjuk dan jari tengah


#dengan segenap rindu
Untukmu papaaaa ♥





Monday, August 3, 2015

Sambel Mentah Bali

Beberapa hari ini pada heboh di medsos share- an "sambel mentah Bali". Sambel ini digadang-gadang bisa membuat orang ketagihan makan, sampai dikatakan bisa menghabiskan nasi se rice cooker. Hehee. Iya, bisa jadi. Sambel ini terbuat dari bahan fresh tanpa dimasak. Tapi bagi penderita maag jangan coba-coba untuk mencicipinya. Wow, opname di RS bisa jadi ganjarannya. 

Naaah, ummi kepingin juga ah sok update. Sekalian menetralisir makanan daging dan bersantan yang terlalu banyak dikonsumsi sejak lebaran. Hihii. Ditambah lagi bahan dan cara bikinnya yang supeeeer mudah.

Resep aslinya, rawit, duo bawang, sereh, daun jeruk semua diiris. Tambah terasi halus, air jeruk nipis dan gulgar. Semua bahan ini diaduk sambil diremas-remas sampai khalis. Setelah itu, disiram dengan minyak goreng panas. Nah, kalau sambel mentah ala ummi, no terasi, rawit campur cabe merah dan air jeruk nipis diganti dengan irisan tomat. Hasilnyaaa, tetep nikmat eee pulll. Apalagi kalau dimakan pakai ikan asin dan kerupuk. Widiiih, dijamin ketagihan. Hihiii

#latepost





Tuesday, June 23, 2015

ByeBye Sholahuddin: Jazakumullah Khairan

TKIT sholahuddin, 2 tahun membersamai hari-hari Dzaki. Kini saatnya harus berpisah. Saya sedih, tentu saja. Seperti ada sesuatu yang hilang. Suasana yang islami, ibu-ibu guru yang solihah, anak-anak yang ceria serta orang tua murid yang super heboh. hehee. Mau bagaimana lagi, Dzaki sudah tidak mau lanjut sekolah. Saya sebagai orang tua sangat menghormati keputusan si sulung ini. 

Awal Dzaki bergabung di Sholahuddin sekitar bulan Juli tahun 2013. Umur Dzaki ketika itu 3.5 tahun. Usia sekecil itu koq sudah masuk TK? Nope! Kami memasukkan Dzaki ke Sholahuddin bukan sebagai murid TK, tapi berniat menitipkan Dzaki diarena bermain yang kondusif dan agamis. Sebab, dirumah Dzaki tidak punya teman bermain. Sehariannya saja hanya bermain dengan setumpuk benda mati. Tidak ada sosialisasi. Kan kasihan. Kami pikir anak seusia itu juga butuh teman. Maka mulailah kami hunting sekolah. Prinsip saya dari awal (yang juga di-acc abinya) adalah Dzaki bersekolah (baca: bersosialiasi) harus benar-benar dalam lingkungan yang baik. Faktor yang paling penting tentu saja guru. Saya ingin Dzaki melihat bu Guru yang berpakaian rapih, sopan dan syar'i. Sebab itu nanti akan sejalan dengan akhlak sang guru. Kebetulan kami ngontrak didaerah Ciomas Perumahan Panggugah. Tentu saja nyari sekolahnya yang deket-deket sana. Ada beberapa opsi sih. Tapi pilihan jatuh ke TKIT Sholahuddin. Banyak yang berkomentar untuk apa menyekolahkan anak disana. Yang konon katanya mahal. Hmm, mahal secara kasat mata sih iya. Tapi kita harus fair dong menilai. Biaya yang dikeluarkan itu sudah termasuk uang gedung, baju dan kegiatan selama setahun. 

Atas pertimbangan segala macam dan rupa, dengan mantap kami menitipkan Dzaki di Sholahuddin. Alhamdulillah, Dzaki dapat kelompok bermain 2. Namanya kelompok Semut. Wali kelasnya Bu Erna. Hari-hari pertama Dzaki sekolah diantar jemput oleh Abi. 



Selama di kelompok bermain (KB) Dzaki memiliki dua orang teman akrab. Sohiban banget nih trio Dzaki-Hanif-Muadz. Dimana dan kemana selalu aja bertiga. Saya berpikir, anak sekecil ini udah bisa ya punya feel yang kuat dalam berteman. Saya sering dikirimi foto oleh bu Erna tentang kedekatan anak bertiga ini. Senang dan terharu dibuatnya. Masa-masa di KB ini kami tidak menuntut banyak. Hanya menfasilitasi Dzaki dalam bersosialisasi. Meski temannya hanya yang berdua itu saja awalnya, tapi lama-kelamaan bisa juga membaur dengan teman yang lain. 




Setahun di kelompok bermain tak terasa sudah. Akhirnya Dzaki lanjut ke TK A, wali kelasnya bernama bu Dewi. Disini nih yang sedih Dzakinya, karena harus berpisah dengan Hanif, karena beda kelas. Dzaki di A5, hanif di A2. Tapi syukurnya masih sekelas dengan Muadz. Di TK A Dzaki juga mulai bersosialisasi dengan teman yang baru. Ada 2 teman yang sering disebut-sebut selain Muadz, yaitu Rafa dan Akbar.


Di TKIT Sholahuddin in sya allah inputnya sangat baik. Disini anak-anak dididik dengan cinta. ceileee.. hehee. Ibu guru yang telaten dan sabar. Two tumbs up deh buat mereka. Secara umum gambaran hari-hari Dzaki di sekolah selama 2 tahun sebagai berikut:
# Masuk sekolah pukul 07.45. Berbaris, dipandu sama bu Guru. Agenda berbaris sesuai dengan tema bulanan mereka. Disini anak-anak belajar jadi pemimpin, mengomando teman-teman untuk berbaris rapih dan berdoa. Saya ingat sekali ucapannya, "temaaan-temaaan..." kata pemimpin. Anak-anak serempak menjawab, "siaaaap". Pemimpin, "bagaimana siapnya?". Anak-anak, "beginilah caranyaa (sambil rapih-rapih barisan, mengambil posisi siap dalam PBB). Setelah arahan dari bu guru dan berdoa, mereka pun masuk kelas masing-masing.
# Dikelas anak-anak duduk melingkar, doa sebelum belajar. Dilanjutkan dengan sesi curhat-curhatan. hihiii. Lalu Ibu guru akan membagikan lembar kegiatan pagi, sementara anak-anak  bergilir untuk mengaji dengan metoda Farhati one by one. 
note: di kelas anak-anak berjumlah 10-12 orang, dididik oleh 1 orang wali kelas dan 1 guru pendamping
# Pukul 10.00 anak-anak selesai kegiatan pagi dan mengaji. Dilanjutkan dengan "break", makan bekal dari rumah berupa cemilan yang sudah dipersiapkan bunda mereka masing-masing. Lalu bermain di luar, anak-anak boleh memilih sendiri mainannya. Ada prosotan, ayunan, macem-macem laaah. :)
# Selesai "break" anak-anak bersiap menuju kelas untuk kegiatan selanjutnya, biasa dilakukan dalam kelas sentra. Guru sentra bukan lagi guru kelas. Jadi anak-anak mengenal semua guru yang ada di sekolah.
Ada beberapa sentra di TKIT Sholahuddin;
- Sentra ibadah
- Sentra imajinasi
- Sentra musik dan olah tubuh
- Sentra eksplorasi
- Sentra kreasi
- Sentra Rancang bangun
- Sentra Matematika
- Sentra Bahasa
- Sentra Sains
# Sekitar sejam di sentra, pukul 11.30 anak-anak kembali ke kelas untuk menyantap makan siang mereka. Menu variatif setiap hari dan cukup gizi, lengkap dengan buah dan sayur. Disini anak-anak yang malas makan buah & sayur akan tersugesti dari teman-teman yang suka. heheee.. Kegiatan makan diawali dengan mengambil makanan secara bergilir, lalu dilanjutkan dengan doa sebelum makan secara bersama. Naaah, akhirnya tuh kan beda-beda yah makannya. Jadi yang selesai bca doa sendiri-sendiri aja.
# Masuk waktu dzuhur anak-anak dipersiapkan untuk sholat (untuk siswa TKA dan TKB sholat di mesjid, sementara untuk KB di kelas saja). Mereka terlebih dahulu mengambil wudhu. Lalu jalan berbaris menuju mesjid. Selesai sholat anak-anak dituntun bu guru berdoa. Sementara bagi anak-anak yang tidak tertib dalam sholat disuruh mengulang lagi. hihiii.. Lucu deh kalau liat tingkah mereka ini.
# Pukul 12.30. yupppp, time to go home. Para penjemput anak, terutama bunda-bunda cantik nan solihah udah berjejer rapih menyambut putra-putri tersayang. Asiiiik. Eh, sekolah juga menyediakan jasa jemputan loh. Ada satu pemandangan yang paling berkesan bagi saya saat pulang sekolah, yaitu sebagian besar anak akan merengek ke ortunya untuk dibeliin yogurt yang dijual di sekolah. Yummmy, segeeeeer. Hmmmmm, how I miss it.

Cihuuuuy, tahu banget ya saya detail kegiatan Abang Dzaki di sekolah. hehehe, iya dooong. Jadiii, setiap semester orang tua murid akan diundang oleh sekolah untuk melakukan kegiatan observasi. Dimana, kegiatan ini bertujuan memperlihatkan aktivitas anak-anak selama di sekolah. Disamping itu, tiap minggu kami akan diberikan buku penghubung antara guru dan orang tua. Disana akan tertulis perkembangan anak dalam waktu per minggu, sementara untuk laporan belajar selama 1 semester akan dibagikan LPS. Dan untuk laporan per tahun akan ditulis dalam Raport berupa 1 bundel buku yang lengkap.

Untuk kegiatan anak-anak di Sholahuddin juga tergantung pada tema bulanan yang sudah disusun sekolah. Nah, disini anak-anak akan berkesempatan juga belajar di luar sekolah, ini disebut dengan PLK (Pembelajaran Lintas Kurikulum). PLK pertama Dzaki yaitu ke Taman Lalu Lintas Cibubur, ini untuk pertama kali juga Dzaki pergi jauh tanpa ummi/abi. Ada juga kunjungan ke dokter gigi, berenang ke Marcopolo, cooking class ke Steak As Salam, mengenal hewan ke Taman Safari dan yang paling anyar serta paling jauh itu ke Kidzania. 

Naah, itu cerita anak-anak di Sholahuddin. Sekarang cerita tentang orang tuanya. :). Di Sholahuddin itu ada yang namanya FPOM, Forum Persatuan Orang Tua Murid,  yaitu sebagai wadah penghubung antara guru dan orang tua murid. Selama 2 tahun menjadi bagian dari ortu murid Sholahuddin, saya merasa senang pernah kenal dengan ibu-ibu yang solihah ini. Banyak kegiatan yang diangkat FPOM, seperti kegiatan rutin tahsin mingguan, taklim bulanan, acara Muharrom berbagi dengan anak yatim, qurban idul adha, dll. Ada juga kerjasama dengan sekolah seperti seminar Parenting Sholahuddin dan acara perpisahan/pentas seni.

Begitulah, pernah menjadi bagian dari Sholahuddin merupakan kebahagiaan tersendiri. Meski kini Dzaki tidak lagi menjadi murid disana. Tapi saya yakin, kalau didikan positif dari sholahuddin akan menjadi bagian puzzle yang indah di kehidupan Dzaki.



Ups, jangan berpikir Dzaki tahun ini akan masuk SD. Untuk setahun kedepan Dzaki mau istirahat dulu dari sekolah formal. Dzaki merupakan tipikal anak yang gampang bosan dan sangat senang bereksplorasi. 2 tahun di Sholahuddin dengan ritme kegiatan yang sudah sangat dikenalnya membuat dia agak bosan sehingga malas-malasan pergi sekolah. Jadi kami memutuskan untuk "mengistirahatkan"nya dulu. Sambil mencari & memulai lagi kegiatan baru. Dan PR bagi ummi dan abi adalah segera hunting sekolah SD untuk Dzaki. Sebab untuk homeschooling rasanya ummi belum sanggup. Aiiiish, udah nyerah duluan nih. #tepok jidat.. 


Akhirnya, ucapan terima kasih pada semua guru, teteh dan pak satpam di Sholahuddin. Jazakumullah Khairan Katsiran. #seiring terngiang-ngiang lantunan mars Sholahuddin yang dinyanyikan anak-anak.

"siswa-siswi Sholahuddin generasi yang rabbani
cinta Allah
cinta nabi
cinta ayah dan bunda
patuhi guru
sayangi teman
solih cerdas mandiri
kita bermain
kita belajar
di TK Sholahuddiiiiiiin"


Monday, June 15, 2015

Kenapa Ummi Ghumaisa???

Abinya anak-anak bertanya, "kenapa nama blognya ummi Ghumaisa?". Wajar sih beliau bertanya begitu, sementara nama kuniyah (julukan) saya kan harusnya Ummu Dzaki/Gildan. Dari mana sih asal Ghumaisanya?? Hmmm, baiklah. Ghumaisa itu diambil dari nama asli Ummu Sulaim. Tahu kan siapa Ummu Sulaim?? Yah, beliau adalah wanita yang paling mulia maharnya, yaitu keislaman calon suaminya (Abu Thalhah). Ummu Sulaim juga terkenal sebagai wanita yang cerdas, bijaksana lagi cantik dan berakhlak mulia. Beliau juga seorang ibu yang hebat karena mampu mendidik anak-anaknya menjadi anak yang solih. Salah satunya adalah Anas bin Malik, seorang pelayan setia dan sahabat yang dekaaaat sekali dengan rasulullah sehingga banyak meriwayatkan hadits.

Nah, ceritanya pas hamil kedua kan ingin sekali punya anak perempuan. Sebelum usg masih berharap banget tuh punya anak perempuan. Nyari-nyarilah nama yang bagus. Dapatlah Ghumaisa ini. Tapi setelah di-usg ternyata jagoan lagi. Yo wis lah, rapopo. Tapi karena udah kadung cinta dengan nama Ghumaisa, apa-apa tuh dipakai nama Ghumaisa. Berharapnya sih nanti semoga Allah benar-benar memberikan seorang anak perempuan dan in sya allah akan diberi nama Ghumaisa. Aamiin.

Begitulah, Ummi Ghumaisa a.k.a Ummu Dzaki sama aja toh. Orangnya itu juga. Blog ini sebenarnya buat memori aja. Untuk suatu saat bisa dibaca-baca oleh anak-anak. Syukur-syukur bisa juga memberikan manfaat bagi orang lain. (",)




Thursday, June 4, 2015

Bumbu halus ala ummi

Pembuatan bumbu halus ini terinspirasi dari sebuah postingan yang ada di facebook. Kalau dipikir-pikir sih praktis juga. Sebab selama ini momok masak yang sangat menyita waktu adalah mempersiapkan segala macam jenis bumbu. Nah, kalau sudah nyetok kan bisa lebih hemat tenaga dan waktu. Tinggal pilih bumbu sesuai dengan jenis masakan yang akan dibuat, cemplung sana-sini jadi deh. Heheee. Disini saya membuat tiga jenis bumbu yang biasa digunakan untuk memasak harian saja, yaitu bumbu balado, bumbu tumis dan bumbu gulai.




BUMBU BALADO
bahan:
cabe merah
bawang merah
tomat merah
Garam
Minyak

Kegunaan:
Untuk lauk yang dibaladoin.

BUMBU TUMIS
bahan:
Bawang merah
Bawang putih
Garam
Merica bubuk
Air
Minyak goreng

Kegunaan:
tumis-tumisan sayur bening, + daun bawang seledri
omelet telur, + daun bawang seledri
oseng-oseng, +daun salam, sereh,  lengkuas geprek
bumbu sop, + cengkeh, pala, kayu manis, daun bawang seledri
gulai putih, + lengkuas & jahe geprek
peyek, +ketumbar, tepung beras, tepung kanji, daun jeruk, taburan kacang tanah/kacang ijo/teri/udang rebon


BUMBU GULAI
bahan:
Bawang merah
Bawang putih
Jahe
Lengkuas
Kunyit
Kemiri
Garam
Air
Minyak goreng

Keguanaan:
Gulai, +bumbu balado & daun-daunan
Tongseng, +bumbu balado/ cabe rawit iris, daun jeruk, sereh, bumbu kari bubuk, kecap
Ungkep, + daun salam

Cara membuat bumbu
Blender semua bahan, jika menggunakan air rebus sampai air menyusut. Lalu tumis hingga harum. Masukkan kedalam wadah. Setelah dingin simpan dalam kulkas.

Bumbu diatas tidak saya berikan takaran karena masaknya pakai 'feel' saja, lagian dirumah juga tidak ada timbangan. Hehee. Tapi biasanya sih perbandingan bawang merah dan bawang putih 2:1. 

Dengan adanya bumbu-bumbu ini di kulkas memasak jadi lebih simpel. (",)