Khatam qur'an atau khatam kaji merupakan salah satu momen yang akan selalu dikenang oleh anak-anak minang. Dalam acara ini peserta akan merasa jadi pangeran atau putri raja sehari. Saya ingat, waktu itu sekitar tahun 1994, saat masih duduk di bangku kelas 4 SD. Saya mengikuti acara khatam kaji ini. Pagi-pagi sekali anak-anak yang ikut khatam kaji akan berdandan memakai pakaian muslim yang bagus. Anak laki-laki berdandan ala gaya timur tengah lengkap dengan gamis dan sorbannya. Sedangkan anak perempuan memakai gamis yang kalau menurut saya lebih seperti pakaian pengantin, hehe. Kehebohan itu berlanjut sampai ke mesjid. Anak-anak akan bersiap mengikuti pawai, berupa arak-arakan keliling kampung. Tak lupa pula nanti akan diiringi oleh marching band dan sanak famili. Ada yang menarik, dalam iringan ini keluarga dari pihak ayah (bako) akan membawa nampan berisi nasi kunyik (mirip tumpeng) dan makanan berbagai jenis khas daerah minang, yang nanti akan "dijujuang" diatas kepala. Begitu arakan selesai, anak-anak dan keluarga serta orang-orang kampung akan kembali lagi ke mesjid. Biasanya pawai selesai masuk waktu dzuhur. Setelah ibadah solat, acara dilanjutkan dengan makan bajamba (makan bersama dalam satu tempat, biasanya talam). Lauk disini akan spesial sekali. Karena dimasak bersama-sama oleh tetua kampung. Biasanya acara khatam kaji ini akan menyembelih sapi atau kambing yang dibeli secara patungan oleh orang tua peserta khatam kaji. Sapi atau kambing tersebut akan dibuat gulai khas minang. Kemudian dilanjutkan dengan acara inti yaitu pembacaan hafalan quran, bisa berupa surat-surat pendek atau ayat-ayat pilihan lainnya. Setiap peserta akan dilakukan penilaian oleh guru ngaji (juri), dari tajwid, irama sampai kepada adabnya. Acara tidak berhenti sampai disitu. Malam harinya, ba'da solat isya diadakan acara tambahan atau hiburan berupa "salawat dulang". Ini berisi salawat dan petatah-petitih berupa nasehat yang disampaikan dengan irama-irama dan diiringi oleh "musik" dari suara taburan "dulang" (nampan dari aluminium).
Oh iya, untuk mencapai pada tahap Khatam Quran ini ada prosesnya loh. Zaman saya masih kecil, kalau tidak bisa dibilang semua tapi sebagian besar anak-anak tingkat SD dan SMP akan pergi mengaji ke mesjid atau surau (musholla). Anak-anak akan dikelompokkan berdasarkan usia dan kemampuannya. Rata-rata anak SD yang baru bisa baca iqro' belajar di sore hari ba'da ashar. Sementara anak-anak yang sudah bisa baca Al.quran akan belajar malam hari ba'da magrib. Disini pun akan dibagi lagi kelompoknya, ada yang baru bisa baca, ada yang tajwidnya sudah bagus dan ada juga level mahir yang sudah bisa mengaji dengan irama-irama indah. Disana kita tidak hanya diajarkan baca Al.quran dengan benar tapi juga pelajaran tambahan lain, seperti fiqh, aqidah akhlaq, imlak, sejarah islam, khad dan lain-lain. Jadi mirip-mirip TPA sekarang lah. Namun, ada sesuatu yang berbeda dan menjadi ciri khas belajar mengaji kami dulu, yaitu kegiatan didikan subuh. Kegiatan yang biasanya dilakukan seminggu sekali ini, pada hari minggu subuh. Sebelum adzan subuh yang suasananya masih gelap dan dilanda rasa kantuk anak-anak akan pergi ke mesjid, kadang bersama orang tua. Tapi lebih suka pergi beramai-ramai bersama teman-teman. Dari didikan subuh anak-anak akan dididik berani dan mandiri. Kami diajarkan supaya bisa tampil didepan umum tanpa rasa takut. Baik itu sebagai MC, menjadi pembaca al.quran, saritilawah, penceramah dan lainnya. Balik ke soal khatam kaji, untuk bisa ikut kegiatan ini, anak-anak harus lulus syarat yaitu, sudah bisa mengaji dengan lancar dan benar serta sudah menamatkan membaca Al.quran 30 juz. Kalau itu sudah dipenuhi, kami akan dibimbing oleh guru untuk mendapatkan ilmu bagaimana cara mengaji yang indah didengar. Rasanya zaman itu belum familiar gaya mengaji ala Al.Ghomidi, Al. Misyari atau ulama lainnya. Jadi kalau menurut saya irama yang diajarkan waktu itu agak terasa berat sebab mungkin juga karena saya yang tidak pandai berdendang ya. ^^
Apapun itu, guru mengaji saya/kami dulu pastilah sangat berjasa sekali. Semoga pahala terus mengalir pada mereka. Aamiin
Bogor, 23022016
-nfk-

No comments:
Post a Comment